TANGERANG, (JN) — Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran Hanta Virus dengan mengirimkan surat edaran kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Tangerang. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui tikus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama saluran air serta menutup celah maupun lorong yang berpotensi menjadi akses masuk tikus atau cecurut ke dalam rumah.
“Hanta virus sangat berbahaya dan dapat berdampak fatal bagi manusia. Penularannya dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi partikel virus dari urin, kotoran, maupun air liur tikus yang telah mengering dan terbawa debu,” ujar Hendra.
Ia menjelaskan, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan kotoran, air liur, atau tikus yang terinfeksi, baik dalam kondisi hidup maupun mati. Selain itu, makanan yang terkontaminasi juga berpotensi menjadi media penularan. Dalam kasus tertentu, gigitan tikus yang terinfeksi dapat menyebabkan seseorang tertular Hanta Virus.
Untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut, masyarakat diminta menutup akses masuk tikus ke rumah, menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan kotoran tikus.
“Pembersihan kotoran tikus sebaiknya menggunakan cairan desinfektan. Hindari membersihkan dengan cara menyapu atau menyedot debu karena dapat membuat partikel virus beterbangan di udara. Pastikan juga makanan tetap tertutup rapat,” katanya.
Hendra menambahkan, hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun antivirus spesifik untuk Hanta Virus. Penanganan pasien masih bersifat suportif berdasarkan gejala yang dialami penderita.
“Reservoir utama penyakit ini adalah tikus. Karena itu, pengendalian populasi tikus dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi langkah penting dalam pencegahan,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, gejala infeksi Hanta Virus tipe HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome) antara lain demam, nyeri badan, lemas, batuk, hingga sesak napas.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang bersama organisasi perangkat daerah terkait terus melakukan pemantauan dan edukasi kepada masyarakat.
“Kami telah mengirimkan edaran kewaspadaan dini kepada seluruh fasilitas pelayanan kesehatan terkait kasus suspek leptospirosis dan Hanta Virus. Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan melalui media sosial serta kampanye perilaku hidup bersih dan sehat,” tutup Hendra.












