SERANG, (JN) — Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Provinsi Banten periode 2026-2028 resmi dikukuhkan di Aula Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Banten, Sabtu (12/9/2026).
Pengukuhan tersebut mengusung tema “Manifestasi Gerakan Keilmuan dan Akselerasi Perkaderan Menuju IPM Banten Berkemajuan.”
Momentum tersebut menjadi penanda dimulainya kepengurusan baru sekaligus penegasan arah gerakan IPM Banten dalam memperkuat tradisi keilmuan dan kaderisasi pelajar Muhammadiyah.
Alumni IPM Banten, Nanas Nasihudin, menilai tema tersebut memiliki relevansi kuat dengan tantangan pelajar di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.
Menurutnya, gerakan keilmuan tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan akademik. IPM perlu mendorong budaya berpikir kritis, literasi, penelitian, serta kemampuan pelajar membaca persoalan sosial di lingkungannya.
“Gerakan keilmuan dalam tubuh IPM bukanlah wacana baru. IPM sejak awal memiliki corak intelektualisme dan aktivisme yang berjalan seimbang,” ujarnya dalam refleksinya terkait pengukuhan PW IPM Banten periode 2026-2028.
Ia mengatakan, gerakan tersebut perlu diterjemahkan dalam program yang konkret dan terukur. Dengan demikian, keilmuan tidak berhenti pada ruang pendidikan, tetapi mampu menghasilkan gagasan dan solusi bagi masyarakat.
Arah tersebut sejalan dengan spirit pembaruan Muhammadiyah yang sejak awal menempatkan pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dari perjuangan.
Pesan KH Ahmad Dahlan agar generasi muda Muhammadiyah terus menuntut ilmu dan kembali mengabdikan keahliannya kepada Muhammadiyah dinilai tetap relevan hingga saat ini.
“Jadilah dokter, master, insinyur, dan profesional, lalu kembalilah kepada Muhammadiyah,” demikian pesan yang kembali direfleksikan dalam momentum pengukuhan tersebut.
Selain gerakan keilmuan, akselerasi perkaderan menjadi agenda penting PW IPM Banten periode 2026-2028.
Perkaderan dinilai tidak semata-mata berkaitan dengan jenjang pelatihan organisasi. Lebih dari itu, kaderisasi harus membentuk karakter, kapasitas intelektual, kepemimpinan, serta kemampuan pelajar menghadapi perubahan zaman.
Komitmen tersebut salah satunya terlihat dari pelaksanaan Pembukaan Pelatihan Kader Madya Taruna Melati (PKMTM) III dengan tema “Future Oriented IPM Movement” sebelum pengukuhan PW IPM Banten.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader agar mampu membaca tantangan masa depan dan merumuskan gerakan yang lebih relevan.
Salah satu program yang mendapat perhatian adalah Pusat Studi Pelajar. Program ini dirancang untuk membangun budaya literasi, kemampuan menulis, hingga riset berbasis kebutuhan daerah.
Pengembangannya dilakukan secara berjenjang, mulai tingkat ranting sekolah, cabang kecamatan, hingga wilayah.
Ketua Umum PW IPM Banten, Nur Ida, sebelumnya menyampaikan bahwa Pusat Studi Pelajar diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konstruktif bagi pembangunan Banten.
Program tersebut juga mendapat respons positif dari DPRD Banten.
Wakil Ketua DPRD Banten, Imron Rosadi, menilai pelajar perlu memiliki kemampuan akademis sekaligus kecerdasan sosial, kepemimpinan, dan komunikasi publik.
Kemampuan tersebut dinilai semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan yang mengubah pola belajar, bekerja, dan berinteraksi generasi muda.
DPRD Banten juga disebut siap membuka ruang kolaborasi, termasuk memfasilitasi sarana pertemuan serta memberi ruang bagi pelajar untuk menyampaikan aspirasi dan hasil kajian kebijakan.
Kolaborasi tersebut menjadi peluang bagi IPM Banten untuk membawa tradisi keilmuan keluar dari ruang internal organisasi menuju ruang publik.
Di sisi lain, tantangan pelajar saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi menuntut generasi muda memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan pijakan nilai dan karakter.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, sebelumnya menekankan pentingnya memadukan dimensi kemanusiaan dengan perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, generasi Z tumbuh dalam kultur digital yang kuat. Kondisi tersebut membutuhkan kecerdasan yang mampu melampaui kemampuan teknis semata.
Dalam konteks itu, IPM memiliki posisi strategis sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di bidang pelajar.
Kehadiran IPM diharapkan tidak hanya melahirkan kader yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan kepemimpinan, dan komitmen terhadap kemajuan masyarakat.
Momentum pengukuhan PW IPM Banten juga berlangsung di tengah meningkatnya capaian pembangunan manusia di Provinsi Banten.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banten pada 2025 tercatat mencapai 77,25 poin dan berada di peringkat ketujuh secara nasional.
Capaian tersebut menjadi tantangan bagi organisasi pelajar untuk ikut memastikan kemajuan pembangunan manusia berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas literasi, daya kritis, dan kapasitas kepemimpinan generasi muda.
PWM Banten di bawah kepemimpinan M. Syamsuddin juga terus mendorong penguatan kemandirian organisasi. Kemandirian tersebut mencakup penguatan kapasitas organisasi dan sektor ekonomi sebagai bagian dari keberlanjutan gerakan.
Bagi PW IPM Banten, kepengurusan periode 2026-2028 kini memiliki pekerjaan besar untuk menerjemahkan tema pengukuhan menjadi program yang nyata.
Gerakan keilmuan harus menghasilkan karya. Perkaderan harus melahirkan kader berkualitas. Sementara kolaborasi harus memberikan dampak bagi pelajar dan masyarakat Banten.
Dengan demikian, jargon IPM Banten Berkemajuan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi dapat dibuktikan melalui kerja, gagasan, dan kontribusi nyata.
Pengukuhan PW IPM Banten periode 2026-2028 pun menjadi titik awal bagi kepengurusan baru untuk membangun gerakan pelajar yang lebih berilmu, adaptif, kritis, dan berorientasi pada masa depan.













