Jendela Informasi Rakyat

Hadapi Kemarau, Pemkab Tangerang Salurkan 75 Pompa Air dan Bangun 26 Irigasi Perpompaan

  • Bagikan

TANGERANG, (JN) – Pemerintah Kabupaten Tangerang memperkuat mitigasi kekeringan untuk menjaga produktivitas pertanian dan ketersediaan gabah di tengah musim kemarau. Berbagai bantuan alat dan sarana produksi pertanian disalurkan, disertai pembangunan infrastruktur pengairan serta pendampingan kepada kelompok tani.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, H. Ujang Sudiartono, mengatakan upaya tersebut dilakukan melalui sinergi dengan Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Banten, perguruan tinggi, dan instansi terkait.

Menurut Ujang, mitigasi dilakukan melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), sarana produksi pertanian (saprodi), pemanfaatan sumber air alternatif, serta penyesuaian varietas padi dan pola tanam sesuai kondisi lahan.

“Untuk tahun 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang telah menyalurkan bantuan sarana produksi pertanian yang bersumber dari APBD, APBN, dan pemerintah provinsi kepada kelompok tani. Bantuan ini merupakan langkah mitigasi kekeringan untuk menjaga produktivitas padi,” ujar Ujang.

Berdasarkan data DPKP Kabupaten Tangerang, bantuan alsintan yang disalurkan pada 2026 meliputi 44 unit traktor roda dua, 14 unit cultivator, 75 unit pompa air, dan 88 unit handsprayer. Bantuan lainnya berupa power thresher, pupuk NPK sebanyak 25.825 kilogram, kompos 20.500 kilogram, pupuk organik 530.000 kilogram, pupuk organik cair 90 liter, serta benih padi sebanyak 86.900 kilogram.

Selain bantuan tersebut, Pemkab Tangerang menyalurkan 26 unit Irigasi Perpompaan (IRPOM). Infrastruktur ini memanfaatkan mesin pompa bertenaga surya, diesel, atau listrik untuk mengalirkan air dari sumbernya menuju lahan persawahan.

“IRPOM menjadi salah satu intervensi pemerintah untuk membantu penyediaan air, mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan, dan mempermudah akses air bagi lahan pertanian yang lokasinya cukup jauh dari sumber air,” jelasnya.

DPKP juga menyalurkan enam unit Irigasi Perpipaan (IRPIP) untuk mendukung distribusi air ke lahan pertanian. Selain itu, pada 2025, pemerintah menyalurkan 22 unit Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang memanfaatkan air bawah permukaan melalui sumur bor.

Upaya penyediaan air turut dilakukan melalui bantuan empat unit sumur pantek, pembangunan dua unit sumur bor di sejumlah titik lahan pertanian, serta rehabilitasi jaringan irigasi tersier di 23 lokasi.

Dalam mendukung peningkatan produktivitas dan swasembada pangan, DPKP juga menyalurkan 3,6 ton benih padi dari UPTD Balai Benih kepada kelompok tani.

Di sisi lain, Pemkab Tangerang berkolaborasi dengan Swiss German University (SGU), Syngenta Indonesia, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengembangkan alternatif pola tanam guna meningkatkan produktivitas padi di tingkat petani.

Ujang menegaskan, mitigasi kekeringan membutuhkan langkah terpadu, mulai dari penyediaan sarana produksi, pembangunan infrastruktur pengairan, hingga penyesuaian pola tanam sesuai kondisi lapangan.

“Bantuan alsintan, sarana produksi, pupuk, dan benih merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Banten, serta Kementerian Pertanian untuk menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau,” katanya.

Meski berbagai langkah mitigasi dilakukan, kekeringan masih berdampak pada lahan pertanian di Kabupaten Tangerang. Berdasarkan data hingga akhir September 2026, kekeringan tercatat terjadi di 17 kecamatan dan 53 desa dengan luas lahan terdampak mencapai 667,05 hektare.

Dari luasan tersebut, sebanyak 340 hektare dilaporkan mengalami puso atau gagal panen. Sementara itu, 85 hektare telah pulih, 73 hektare telah dipanen, dan 230 hektare masih terancam kekeringan.

Ujang menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi minimnya curah hujan, ketiadaan sumber air, berkurangnya debit sumber air, serta jarak sumber air yang cukup jauh dari lahan pertanian.

Karena itu, pemerintah terus mendorong pemanfaatan sumber air alternatif dan penguatan infrastruktur irigasi sebagai langkah untuk menekan risiko gagal panen.

Melalui berbagai upaya tersebut, Pemkab Tangerang berharap produktivitas padi tetap terjaga, dampak kekeringan dapat ditekan, dan ketersediaan pangan bagi masyarakat tetap terpenuhi.

Penulis: EDI
  • Bagikan
Exit mobile version