Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.
Di antara banyak hewan yang tercipta, babi adalah satu dari beberapa yang disebut dalam al-Qur’an. Meski dalam bentuk larangan untuk mengkonsumsinya dan sebab manusia adalah apa yang dikonsumsinya, pengharaman daging babi tersebut mengandung hikmah agar tidak meniru atau berkepribadian dan condong kepadanya.
Babi seringkali berperilaku jorok. Meski terdapat sejarah yang mengungkapkan kisah babi sebagai hewan yang juga memiliki kebaikan seperti yang terdapat dalam kisah perjalanan nabi Nuh, dimana para babi menjadi di antara hewan yang diangkut telah berjasa dalam membersihkan kapal secara total.
Namun lantaran sikap babi yang tidak bijak, mungkin lantaran merasa telah berjasa kemudian para babi bersenang dan bergembira riang berlebihan sehingga mengganggu ketentraman kondisi kapal, Nabi Nuh kemudian menjatuhkan para babi dan tidak lagi mengarungi laut bersama di dalam kapal. Meski demikian, setiba surutnya air, para babi mengungkapkan rasa terima kasih lantaran mereka telah diberikan kesempatan dan diperlakukan secara baik selama perjalanan bersama-sama di dalam kapal.
Habibat babi di perkebunan adalah hama, makanya termasuk bersifat merusak. Begitu pun di lahan pertanian, babi akan merusak tanaman petani bahkan tanpa menghabiskan buahnya, lebih kepada merusak saja tanpa peduli akibatnya. Ketamakan menjadi ciri khasnya. Sehingga aturan seperti kepatutan dilanggar dan mengikuti yang diinginkan.
Babi termasuk hewan yang tidak akan punah hingga hari kiamat dan menjadi bagian dari misi suci Nabi Isa Alaihi Salam, setelah turun dari langit kelak, selain membinasakan salib adalah satu rangkaian misi dengan membunuh para babi. Dalam bahasa lain, eksistensi babi terjaga hingga akhir zaman tidak peduli seberapa jorok dan buruk perilaku yang melekat serta kerusakan yang diakibatkan oleh perbuatan para babi tersebut hingga Nabi Isa bin Maryam membinasakan semuanya.
Meski begitu, kisah di atas bukan semata hikmah diharamkannya babi yang sepenuhnya dalam pengetahuan Allah. Agar manusia semua berpikir menggunakan akal yang dikaruniakan untuk menimbang diantaranya sikap terhadap kenikmatan dunia.
Akhirnya, artikel ini hendak ditutup dengan sebuah anekdot dari seorang Muallafah saat dialog dengan Dondy Tan, kisah seorang yang menyembah jin yang meminta motor kemudian dikabulkan, namun ketika meminta mobil terhalang dan dikatakan oleh jin tersebut bahwa, “lah kamu mau minta mobil padahal sudah ada motor, orang saya saja masih mengendarai babi.” Tidak berselang lama kemudian keduanya pun mati.
Penulis Adalah Lepas Lintas Jogja Sumatera











